Malam Ini Dibuat dari Tangis,

dan juga umpatan makian dalam hati sisa siang tadi.

Mungkin dia harus sering-sering pergi ke bukit, atau ke laut. Biar dia tidak dicap liar dan gila—biar aku tidak menangis sambil tertawa dan bertepuk tangan.

Biar semesta yang menerimanya, semesta pasti cukup kuat.

Semesta sepertinya tidak mengenal kata kurangajar—semesta tidak kenal kata tidak tahu diri. Manusia sudah mengecewakannya terlalu banyak.

Terkutuklah dia, karena merindukan malam-malam itu. Ketika suara di seberang sana merupakan cikal bakal bahagia—pun juga nestapa—sesengguk dari pagi tadi. Suaranya menenangkan. Terlalu.

Malam ini, yang ada di ujung sana berbeda. Sesengguk ini tak jadi tenang. Terlalu memang untuk diucapkan, tetapi maaf sayang

kamu belum berhasil.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s